IMPLEMENTASI EDUPRENEURSHIP DI SEKOLAH MENENGAH
KEJURUAN MELALUI
TEACHING FACTORY
A. PENDAHULUAN
Pendidikan Kejuruan diselenggarakan untuk menghasilkan lulusan peserta didik yang dapat menciptakan peluang kerja (enterpreneur). Lulusan sekolah kejuruan harus memiliki sikap kreatif dan inovatif Salah satu strategi pendidikan kejuruan untuk menyiapkan lulusan yang memiliki sikap wirausaha adalah dengan mengembangkan teaching factory. Teaching factory merupakan sarana sebagai tempat berlatih usaha. Edupreneurship tanpa teaching factory sama seperti belajar keterampilan tanpa praktik karena tidak ada pengalaman nyata yang diperoleh siswa selama belajar. Namun demikian, untuk menjadi seorang entrepreneur tidak semata-mata harus berwirausaha dengan cara berjualan, tetapi dapat menjadi kreator pada industri kreatif yang lebih luas lapangan kerjanya.
B. SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan
kejuruan pada jenjang pendidikan menengah yang bertujuan mempersiapkan peserta
didiknya untuk dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan
yang ada sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi yang
dimilikinya (UU No.20/2003). SMK dituntut mampu membekali lulusannya dengan seperangkat
kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha/Industri. Pengembangan SMK
saat ini mulai bergerak dari orientasi pasar tenaga kerja lokal kepada pasar
tenaga kerja internasional, serta mempersiapkan para lulusan dengan pembekalan karakter
kewirausahaan (entrepreneurship) dibutuhkan pembelajaran yang berbasis
industri dan kewirausahaan melalui teaching factory
C. KONSEP EDUPRENEURSHIP
Istilah Edupreneurship terdiri dari dua kata, yakni Education yang berarti pendidikan dan enterpreneurship yang bermakna kewirausahaan atau kewiraswastaan. Selain dari itu enterpreneurship juga berasal dari bahasa Perancis, entreprendre yang berarti wirausaha/kewirausahaan yang juga diartikan sebagai entreprise yang berarti menyambut tantangan Fadhilah, (2011:75). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa edupreneurship adalah pendidikan yang mencetak peserta didik yang kreatif inovatif, pencipta peluang yang handal, dan pemberani melangkah menyambut tantangan kehidupan.
Edupreneurship merupakan bagian dari entrepreneurship yang unik di bidang pendidikan. Entrepreneurship adalah usaha kreatif atau inovatif dengan melihat atau menciptakan peluang dan merealisasikannya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah (ekonomi, sosial, dll). Entrepreneurship di bidang sosial disebut sosiopreneurship, di bidang edukasi disebut edupreneurship, di internal perusahaan disebut interpreneurship, di bidang bisnis teknologi disebut teknopreneurship (Ikhwan Alim, 2009).
Oxford Project, (2012) menjelaskan edupreneurship adalah sekolah-sekolah yang selalu melakukan inovasi yang bermakna secara sistemik, perubahan transformasional, tanpa memperhatikan sumber daya yang ada, kapasitas saat ini atau tekanan nasional dalam rangka menciptakan kesempatan pendidikan baru dan keunggulan. Dua pengertian tersebut mengandung makna yang berbeda. Dalam pengertian pertama, edupreneurship lebih banyak berorientasi pada profit yang banyak memberi keuntungan finansial. Definisi kedua lebih umum yaitu semua usaha kreatif dan inovatif sekolah yang berorientasi pada keunggulan.
D. TEACHING FACTORY
Pembelajaran Teaching factory atau dikenal dengan nama TEFA merupakan
suatu konsep pembelajaran kontekstual yang mendekatkan siswa ke dalam situasi
kerja yang sesungguhnya. Teaching Factory merupakan sebuah replika
industri, memiliki peralatan produksi setara dengan industri, menerapkan
standar operasional prosedur yang sama dengan industri sehingga produksi barang
dan jasapun sejajar dengan industri, Menurut
Kuswantoro (2014), teaching factory menjadi
konsep pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya untuk menjembatani
kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan
industri
Pembelajaran Teaching
Factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa
yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan
dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Pelaksanaan Teaching
Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai
pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK. Pelaksanaan Teaching
Factory (TEFA) juga harus melibatkan pemerintah, pemerintah
daerah dan stakeholders dalam pembuatan regulasi, perencanaan,
implementasi maupun evaluasinya.
Pelaksanaan Teaching Factory sesuai
Panduan TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan sebagai
alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun model tersebut adalah
sebagai berikut:
·
Model
pertama, Dual Sistem dalam
bentuk praktik kerja lapangan adalah pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja
yang dikenal sebagai experience based training atau enterprise
based training.
·
Model
kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi merupakan
sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan dan
peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan. Pada model ini, penilaian peserta didik dirancang untuk memastikan
bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan pengetahuan yang
dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang ditempuh.
·
Model ketiga, Production
Based Education and Training (PBET) merupakan
pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi yang telah dimliki oleh
peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan keterampilannya dengan memberikan
pengetahuan pembuatan produk nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan
masyarakat).
·
Model
keempat, Teaching Factory adalah
konsep pembelajaran berbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah
dan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.
Sintaksis Teaching
Factory
·
Merancang
produk
Pada tahap ini peserta didik
mengembangkan produk baru/ cipta resep atau produk kebutuhan sehari-hari (consumer
goods)/merancang pertunjukan kontemporer dengan menggambar/membuat
scrip/merancang pada komputer atau manual dengan data spesifikasinya.
·
Membuat prototype
Membuat produk/ kreasi baru /tester
sebagai proto type sesuai data spesifikasi.
·
Memvalidasi
dan memverifikasi prototype
Peserta didik melakukan validasi dan
verifikasi terhadap dimensi data spesifikasi dari prototype/kreasi
baru/tester yang dibuat untuk mendapatkan persetujuan layak
diproduksi/dipentaskan.
·
Membuat
produk masal
Peserta didik mengembangkan jadwal dan
jumlah produk/ pertunjukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
Dadang Hidayat (2011) berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan, mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching
Factory sebagai berikut.
·
Menerima
order
Pada langkah belajar ini peserta didik
berperan sebagai penerima order dan berkomunikasi dengan pemberi order
berkaitan dengan pesanan/layanan jasa yang diinginkan. Terjadi komunikasi
efektif dan santun serta mencatat keinginan/keluhan pemberi order seperti
contoh: pada gerai perbaikan Smart Phone atau reservasi kamar
hotel.
·
Menganalisis
order
Peserta didik berperan sebagai teknisi
untuk melakukan analisis terhadap pesanan pemberi order baik berkaitan dengan
benda produk/layanan jasa sehubungan dengan gambar detail, spesifikasi, bahan,
waktu pengerjaan dan harga di bawah supervisi guru yang berperan sebagai
supervisor.
·
Menyatakan
Kesiapan mengerjakan order
Peserta didik menyatakan kesiapan untuk
melakukan pekerjaan berdasarkan hasil analisis dan kompetensi yang dimilikinya
sehingga menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab.
·
Mengerjakan
order
Melaksanakan pekerjaan sesuai tuntutan
spesifikasi kerja yang sudah dihasilkan dari proses analisis order. Siswa
sebagai pekerja harus menaati prosedur kerja yang sudah ditentukan. Dia harus
menaati keselamatan kerja dan langkah kerja dengan sungguh-sunguh untuk
menghasilkan benda kerja yang sesuai spesifikasi yang ditentukan pemesan
·
Mengevaluasi
produk
Melakukan penilaian terhadap benda
kerja/layanan jasa dengan cara membandingkan parameter benda kerja/ layanan
jasa yang dihasilkan dengan data parameter pada spesifikasi order pesanan atau
spesifikasi pada service manual.
·
Menyerahkan
order
Peserta didik menyerahkan order baik
benda kerja/layanan jasa setelah yakin semua persyaratan spesifikasi order
telah terpenuhi, sehingga terjadi komunikasi produktif dengan pelanggan. (disarikan
dari Bahan Penyegaran Kurikulum 2013 SMK tahun 2017)
Daftar Pustaka
Ikhwan Alim, (2010), “Peranan ITB dalam Pengembangan Kewirausahaan”, Pengembangan Kemahasiswaan Kabinet KM ITB 20092010. Diperoleh dari http://ikhwanalim.wordpress.com diakses 27 Juni 2017
Mulyatiningsih, Endang dkk (2014), Pengembangan Edupreneurship sekolah Kejuruan, FT Univeritas Negri Yogyakarta, 2014
Oxford Project, (2012) Leading Through Edupreneurship.Copyrighted to Oxford Community Schools, Oxford, UK
https://mutudidik.wordpress.com/2017/05/26/model-pembelajaran-teaching-factory-tefa/