Monday, February 15, 2021

 PERANCANGAN GAMBAR KERJA DAN LEMBAR KERJA

Membuat gambar atau lembar kerja merupakan langkah yang termasuk ke dalam perancangan prototipr produk barang/jasa. Gambar kerja yang baik yaitu gambar kerja yang memberikan informasi tentang proses perakitan dan pembuatan suatu komponen yang lengkap dan detail, tetapi harus mudah dimengerti dan dipahami oleh operator produksi


1. Kegiatan Merancang Prototype

Perancangan atau desain adalah kegiatan menciptakan rencana pembuatan suatu objek dan sistem (seperti yang banyak ditemui di cetak biru arsitektur, gambar rekayasa, proses bisnis, diagram sirkuit, dan lain-lain). Desain memiliki pengertian berbeda-beda, tergantung pada bidang ilmunya. Dalam beberapa disiplin ilmu, kegiatan membangun suatu objek secara langsung, seperti desain gratis, juga dianggap sebagai kegiatan perancangan.

Perancangan dilakukan oleh seorang desainer produk yang diawali dengan konsep, lalu mengevaluasi ide-ide seolah-olah nyata melalui produk dalam pendekatan yang lebih sistematis.Pada saat melakukan kegiatan mendesain atau merancang prototipe produk melibatkan berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda, seperti manajer pemasaran, manajer produksi, dan perancang atau si desainernya sendiri. Mengapa demikian? Karena, seorang desainer produk harus meminta data dari bagian pemasaran mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keinginan konsumen. Kemudian, seorang desainer produk membuat gambar kerja yang harus dimengerti oleh bagian produksi, sehingga dengan gambar kerja tersebut bagian operator produksi dapat memahami dan membuat prototipe produk barang dan jasa sesuai gambar kerja.

Perancangan memegang peranan penting dalam penciptaan suatu objek. Banyak aspek yang menjadi faktor dalam mempertimbangkan sebuah rancangan, seperti aspek keindahan, fungsi, ekonomis, dan social politik. Oleh karena banyaknya aspek-aspek yang dijadikan pertimbangan, maka kegiatan perancangan biasanya dibarengi dengan kegiatan penelitian, perenungan, pemodelan, dan perancangan kembali.

Untuk membuat perancangan prototipe produk barang dan jasa, seorang desainer harus memiliki keterampilan yang mumpuni agar produk yang dihasilkan mampu berkompetisi dengan produk-produk kompetitor. Selain itu, seorang desainer prototipe produk barang dan jasa harus mampu membuat gambar kerja yang mudah dimengerti, dan memiliki informasi yang detail, sehingga bisa mempermudah proses produksi.

Dalam kegiatan membuat rancangan gambar kerja prototipe barang dan jasa tiga dimensi,maka seorang desainer produk harus menggabungkan seni estetika, ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini kegiatan perancangan tersebut bisa lebih mudah dilakukan, karena berbagai fasilitas perangkat digital dapat membantu.

Inti dari perencanaan desain terletak pada pengembangan konsep. Menurut Crawford, konsep desain adalah kombinasi antara lisan, tulisan, dan atau bentuk prototipe yang nantinyabisa dilakukan perbaikan sesuai dengan keinginan konsumen. Dengan demikian, fungsi perancangan memegang peranan penting dalam mendefinisikan bentuk fisik produk agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Dalam konteks tersebut tugas bagian perancangan mencakup desain engineering (mekanik, elektrik, software dan lain-lain) dan desain industri (estetika, ergonomics, user interface)

Jadi, kita bisa menganggap bahwa perancangan merupakan suatu bentuk abstrak dari benda nyata/fisik. Perancangan adalah kegiatan kreatif yang sarat dengan penemuan.

Terdapat perbedaan pendapat yang berkaitan dengan proses yang dialami oleh perancang dalam membuat suatu perancangan. Kees Dorst dan Judith Dijkhuis yang merupakan perancang menganggap bahwa "terdapat berbagai macam cara dalam mendeskripsikan proses perancangan". Namun, Kees Dorst dan Judith Dijlkus merangkum perbedaan-perbedaan cara tersebut menjadi 2 model, yakni Model Rasional dan Model Aksi-Sentris.

Di bawah ini merupakan penjelasan berbagai jenis model desain yang berkaitan dengan hakikat desain sebagai proses:

a. Model Rasional
Model Rasional adalah model yang dikembangkan oleh Herbert A. Simon. Beliau adalah seorang ilmuwan Amerika. Selain Herbert A. Simon, Model Rasional juga dikembangkan oleh Gerhard Pahl dan Wolfgang Beitz. Mereka adalah dua ahli rekayasa rancangan berkewarganegaraan Jerman.

Prinsip Model Rasional Model Rasional menyatakan bahwa:
  • Para perancang berusaha untuk memaksimalkan rancangannya sesuai dengan tujuan dan batasan-batasan suatu produk.
  • Proses perancangan adalah proses yang berdasarkan pada rencana yang telah dibuat.
  • Proses desain hanya bisa dipahami sebagai proses yang dilaksanakan secara bertahap.  Dasar dari model rasional adalah teori rasionalisme. Menurut teori rasionalisme, rancangan adalah hal yang dibuat oleh perancang dengan tujuan untuk mewujudkan rancangan tersebut menjadi informasi yang jelas dan dapat diukur.

Tahapan-tahapan proses perancangan dalam Model Rasional:
1. Pengarahan rancangan:
2. Analisis
3. Penelitian
4. Spesifikasi
5. Pemecahan masalah
6. Presentasi
7. Pengembangan rancangan
8. Pengujian
9. Implementasi
10. Evalusasi dan kesimpulan
11. Perancangan kembali


b. Model Aksi-Sentris 
Model aksi sentris adalah bentuk kritik dari model rasional. Model aksi sentris menyatakan bahwa: 
  • Perancang menggunakan emosi dan imajinasi dalam membuat sebuah rancangan.
  • Proses desain adala proses yang penuh improvisasi (tidak terpaku pada rencana yang saklek).
Model aksi sentris adalah model yang berdasarkan pada teori empiris dan metode Agile. Dalam model ini, perasaan dan imajinasi perancang lebih dihargai. Namun, layaknya model rasional, model aksi sentris juga menganggap bahwa rancangan adalah sekumpulan informasi dan pengetahuan seorang perancang.
Bedanya, model aksi sentris menyatakan bahwa pengetahuan dan informasi tersebut berasal dari sudut pandang perancang tersebut, bukan berasal dari keadaan yang dapat diukur dan diprediksi. Jadi, model aksi sentris lebih menekankan pada pola pemikiran dan profesionalisme perancang dibandingkan dengan kemampuan teknisnya.

2. Jenis-Jenis Perancangan

Berikut merupakan jenis-jenis perancangan.

1. Rancangan Produk 
Tujuan dari rancangan produk adalah agar suatu produk dapat memiliki daya guna bagi konsumen. Perancang produk biasanya seseorang yang mengetahui alur kecenderungan konsumen. Kemampuan daya guna suatu rancangan produk biasanya disajikan ke dalam tiga macam ilustrasi, yakni diagram resolusi rendah, flowchart, dan sistem antarmuka sederhana. Perancang produk harus memiliki skala prioritas yang tepat karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksekusi semua ide yang dimilikinya. Selain itu, perancang produk juga harus mengutamakan kepcntingan konsumen.

2. Rancangan Visual 
Tujuan dari perancangan visual adalah memastikan suatu produk dapat memiliki daya tarik bagi konsumen dalam kaitannya dengan stimulasi panca indera. Rancangan visual adalah rancangan yang mengutamakan keindahan dan subjektifitas perancangnya. Tapi perancang visual akan membuat produk rancangannya menjadi produk yang mudah dikenali. Perancang visual berupaya agar produk tersebut memiliki bentuk visual yang menarik. Seorang perancang visual haruslah seseorang yang memperhatikan detail. Mereka juga harus memiliki kemampuan lebih dalam aspek keterampilan visual, sepertian animasi.

Sunday, November 22, 2020

 

IMPLEMENTASI  EDUPRENEURSHIP  DI SEKOLAH MENENGAH

KEJURUAN MELALUI TEACHING FACTORY

 

A.    PENDAHULUAN

Pendidikan Kejuruan diselenggarakan untuk menghasilkan lulusan peserta didik  yang dapat menciptakan peluang kerja (enterpreneur). Lulusan sekolah kejuruan harus memiliki sikap kreatif dan inovatif  Salah satu strategi pendidikan kejuruan untuk menyiapkan lulusan yang memiliki sikap wirausaha adalah dengan mengembangkan teaching factory. Teaching factory  merupakan sarana sebagai tempat berlatih usaha. Edupreneurship tanpa teaching factory sama seperti belajar keterampilan tanpa praktik karena tidak ada pengalaman nyata yang diperoleh siswa selama belajar. Namun demikian, untuk menjadi seorang entrepreneur tidak semata-mata harus berwirausaha dengan cara berjualan, tetapi dapat menjadi kreator pada industri kreatif yang lebih luas lapangan kerjanya.


B.    SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan satuan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah yang bertujuan mempersiapkan peserta didiknya untuk dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya (UU No.20/2003). SMK dituntut mampu membekali lulusannya dengan seperangkat kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha/Industri. Pengembangan SMK saat ini mulai bergerak dari orientasi pasar tenaga kerja lokal kepada pasar tenaga kerja internasional, serta mempersiapkan para lulusan dengan pembekalan karakter kewirausahaan (entrepreneurship) dibutuhkan pembelajaran yang berbasis industri dan kewirausahaan melalui teaching factory


C.    KONSEP EDUPRENEURSHIP

Istilah Edupreneurship terdiri dari dua kata, yakni Education yang berarti pendidikan dan enterpreneurship yang bermakna kewirausahaan atau kewiraswastaan. Selain dari itu enterpreneurship juga berasal dari bahasa Perancis, entreprendre yang berarti wirausaha/kewirausahaan yang juga diartikan sebagai entreprise yang berarti menyambut tantangan Fadhilah, (2011:75). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa edupreneurship adalah pendidikan yang mencetak peserta didik yang kreatif inovatif, pencipta peluang yang handal, dan pemberani melangkah menyambut tantangan kehidupan.  


Edupreneurship merupakan bagian dari entrepreneurship yang unik di bidang pendidikan. Entrepreneurship adalah usaha kreatif atau inovatif dengan melihat atau menciptakan peluang dan merealisasikannya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah (ekonomi, sosial, dll). Entrepreneurship di bidang sosial disebut sosiopreneurship, di bidang edukasi disebut edupreneurship, di internal perusahaan disebut interpreneurship, di bidang bisnis teknologi disebut teknopreneurship (Ikhwan Alim, 2009).

Oxford Project, (2012) menjelaskan edupreneurship adalah sekolah-sekolah yang selalu melakukan inovasi yang bermakna secara sistemik, perubahan transformasional, tanpa memperhatikan sumber daya yang ada, kapasitas saat ini atau tekanan nasional dalam rangka menciptakan kesempatan pendidikan baru dan keunggulan. Dua pengertian tersebut mengandung makna yang berbeda. Dalam pengertian pertama, edupreneurship lebih banyak berorientasi pada profit yang banyak memberi keuntungan finansial. Definisi kedua lebih umum yaitu semua usaha kreatif dan inovatif sekolah yang berorientasi pada keunggulan.


 D.    TEACHING FACTORY

Pembelajaran Teaching factory atau dikenal dengan nama TEFA merupakan suatu konsep pembelajaran kontekstual yang mendekatkan siswa ke dalam situasi kerja yang sesungguhnya. Teaching Factory merupakan sebuah replika industri, memiliki peralatan produksi setara dengan industri, menerapkan standar operasional prosedur yang sama dengan industri sehingga produksi barang dan jasapun sejajar dengan industri,  Menurut Kuswantoro (2014), teaching factory menjadi konsep pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri

Pembelajaran Teaching Factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK. Pelaksanaan Teaching Factory (TEFA) juga harus melibatkan pemerintah, pemerintah daerah dan stakeholders dalam pembuatan regulasi, perencanaan, implementasi maupun evaluasinya.

Pelaksanaan Teaching Factory sesuai Panduan TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan sebagai alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun model tersebut adalah sebagai berikut:

·         Model pertama, Dual Sistem dalam bentuk praktik kerja lapangan adalah pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja yang dikenal sebagai experience based training atau enterprise based training.

·         Model kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Pada model ini, penilaian peserta didik dirancang untuk memastikan bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang ditempuh.

·         Model ketiga, Production Based Education and Training (PBET)  merupakan pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi yang telah dimliki oleh peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan keterampilannya dengan memberikan pengetahuan pembuatan produk nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan masyarakat).

·         Model keempat, Teaching Factory adalah konsep pembelajaran berbasis industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.

 

Sintaksis Teaching Factory

·         Merancang produk

Pada tahap ini peserta didik mengembangkan produk baru/ cipta resep atau produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods)/merancang pertunjukan kontemporer dengan menggambar/membuat scrip/merancang pada komputer atau manual dengan data spesifikasinya.

·         Membuat prototype

Membuat produk/ kreasi baru /tester sebagai proto type sesuai data spesifikasi.

·         Memvalidasi dan memverifikasi prototype

Peserta didik melakukan validasi dan verifikasi terhadap dimensi data spesifikasi dari prototype/kreasi baru/tester yang dibuat untuk mendapatkan persetujuan layak diproduksi/dipentaskan.

·         Membuat produk masal

Peserta didik mengembangkan jadwal dan jumlah produk/ pertunjukan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Dadang Hidayat (2011) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching Factory sebagai berikut.

·         Menerima order

Pada langkah belajar ini peserta didik berperan sebagai penerima order dan berkomunikasi dengan pemberi order berkaitan dengan pesanan/layanan jasa yang diinginkan. Terjadi komunikasi efektif dan santun serta mencatat keinginan/keluhan pemberi order seperti contoh: pada gerai perbaikan Smart Phone atau reservasi kamar hotel.

·         Menganalisis order

Peserta didik berperan sebagai teknisi untuk melakukan analisis terhadap pesanan pemberi order baik berkaitan dengan benda produk/layanan jasa sehubungan dengan gambar detail, spesifikasi, bahan, waktu pengerjaan dan harga di bawah supervisi guru yang berperan sebagai supervisor.

·         Menyatakan Kesiapan mengerjakan order

Peserta didik menyatakan kesiapan untuk melakukan pekerjaan berdasarkan hasil analisis dan kompetensi yang dimilikinya sehingga menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab.

·         Mengerjakan order

Melaksanakan pekerjaan sesuai tuntutan spesifikasi kerja yang sudah dihasilkan dari proses analisis order. Siswa sebagai pekerja harus menaati prosedur kerja yang sudah ditentukan. Dia harus menaati keselamatan kerja dan langkah kerja dengan sungguh-sunguh untuk menghasilkan benda kerja yang sesuai spesifikasi yang ditentukan pemesan

·         Mengevaluasi produk

Melakukan penilaian terhadap benda kerja/layanan jasa dengan cara membandingkan parameter benda kerja/ layanan jasa yang dihasilkan dengan data parameter pada spesifikasi order pesanan atau spesifikasi pada service manual.

·         Menyerahkan order

Peserta didik menyerahkan order baik benda kerja/layanan jasa setelah yakin semua persyaratan spesifikasi order telah terpenuhi, sehingga terjadi komunikasi produktif dengan pelanggan. (disarikan dari Bahan Penyegaran Kurikulum 2013 SMK tahun 2017)



Daftar Pustaka


Ikhwan Alim, (2010), “Peranan ITB dalam Pengembangan Kewirausahaan”, Pengembangan Kemahasiswaan Kabinet KM ITB 20092010. Diperoleh dari http://ikhwanalim.wordpress.com diakses 27 Juni 2017  

Mulyatiningsih, Endang dkk (2014), Pengembangan Edupreneurship sekolah Kejuruan, FT Univeritas Negri Yogyakarta, 2014  

Oxford Project, (2012) Leading Through Edupreneurship.Copyrighted to Oxford Community Schools, Oxford, UK

https://mutudidik.wordpress.com/2017/05/26/model-pembelajaran-teaching-factory-tefa/

Monday, October 5, 2020

SISTEM PERAKITAN DAN KESEIMBANGAN LINTASAN

 

1. Sistem perakitan

Ada beberapa macam jenis perakitan yang sering digunakan di dunia industri, hal ini tergantung pada pekerjaan yang akan dilakukan. Biasanya faktor bentuk dan jumlah produk yang akan dihasilkan sangat menentukan. 

Pada umumnya ada dua macam jenis perakitan yaitu :
  • Perakitan Manual yaitu; perakitan yang sebagian besar proses dikerjakan secara konvensional atau menggunakan tenaga manusia dengan peralatan yang sederhana tanpa alat-alat bantu yang spesifik atau khusus.
  • Perakitan otomatis yaitu; perakitan yang dikerjakan dengan sistem otomatis seperti otomasi, elektronik, mekanik, gabungan mekanik dan elektronik (mekatronik), dan membutuhkan alat bantu yang lebih khusus.

Sedangkan untuk jenis perakitan dapat dibedakan menurut jenis produk yang akan dilakukan perakitan yaitu;
  • Produk tunggal Jenis perakitan tunggal yaitu perakitan dengan produk hanya satu jenis saja
  • Produk seri Jenis perakitan produk seri adalah bila perakitan dilakukan dalam jumlah massal dalam bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya proses perakitan produk elektronik, perakitan mobil, perakitan motor dan lain-lain.

2. Terminology Keseimbangan Lintasan

Istilah - istilah dalam keeimbangan lintasan :
  • Elemen kerja : yaitu bagian dari keseluruhan pekerjaan dalam proses perakitan
  • Elemen kerja minimum : yaitu bagian terkecil dari suatu elemen kerja yang sudah tidak dapat terbagi lagi.
  • Total Waktu Pengerjaan : yaitu jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan semua elemen sepanjang lintasan
  • Waktu proses stasiun kerja : yaitu jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan semua elemen kerja yang berada distasiun kerja kerja tersebut
  • Waktu siklus: yaitu jarak waktu antar produk yang dapat dihasilkan pada lintasan
  • Diagram pendahuluan : yaitu suatu grafik yang mengambarkan urutan elemen kerja yang diberi symbol node dengan tanda panah sebagai penghubung antar node yang menunjukkan aliran tiap elemen .

3. Metode Keseimbangan lintasan

a. Metode Bobot Posisi

Metode bobot posisi sering dikenal pula dengan pendekatan Helgeson – Birnie. Metode ini dikembangkan oleh W.B. Helgeson dan D.P Birnie pada tahun 1961 dan merupakan metode heuristic yang paling awal dikembangkan. Metode ini merupakan gabungan antara metodeLargest – Candidate rule dan metode Killbridge and waster. Pada arinsipnya metode bobot posisi memperhitungkan nilai bobot posisi ( ranked positional weight), dan elemen yang memiliki bobot posisi terbesar diletakkan pda urutan teratas.

b. Metode pendekatan wilayah

Metode pendekata wilayah dikembangkan oleh Bedworth . Metode ini merupakan pengembangan dari pendekatan Helgeson – Birnie ( metode bobot posisi), Mansor dan Killbridge and wester. Pada prinsipnya metode ini berusaha membebankan terlebih dahulu pada operasi yang memiliki tanggung jawab keterdahuluan yang besar.

c. Metode Largest Candidate Rule

Metode Largest Candidate Rule adalah metode yang mengurutkan elemen kerja berdasarkan lamanya waktu operasi.

d. Metode keseimbangan lintasanTerkomputerisasi 

Beberapa metode lintasan komputerisasi yang sudah banyak diterapkan , yaitu sebagai berikut:  
  1. COMSOAL ( Computer Methode of sequencing Operation For Asembbly Lines) meskipun bukan metode computer pertama yang dikembangkan namun metode ini cukup dipertimbangkan untuk mengatasi persoalan keseimbangan lintasan dibandingkan dengan metode sebelumnya
  2. CALB ( Computer Assembly Line Balancing) , CALB dapat digunakan pada lintasan tunggal maupun campuran
  3. ALPACA ( Assembly Line Planning and Control), merupakan metode pertama kali dikembangkan oleh General Motors pada tahun 1967  

Monday, September 21, 2020

PENDEKATAN ANALISIS PELUANG USAHA

 

PENDEKATAN ANALISIS PELUANG USAHA

Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam menganalisis peluang usaha,
yaitu.

1.     Analisis SWOT

Analisis SWOT merupakan analisis untuk mengetahui faktor internal (Strenght dan Weaknes) dan eksternal (Opportunity dan Threats) perusahaan.  SWOT sangat penting untuk mengetahui kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman, sehingga wirausaha bisa melakukan strategi yang tepat.

Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui:

a.   Strenght yaitu kekuatan atau kelebihan yang dimiliki perusahaan yang dapat digunakan untuk mendukung usaha, contoh: memiliki produk yang berkualitas dan sudah dikenal masyarakat, memiliki tenaga kerja (SDM) yang kompeten dan loyal

b. Weakness yaitu kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan, bila tidak diatasi akan menghambat kinerja usaha, contoh: karyawan yang kurang pengalaman,

c.      Opportunity : Peluang atau kesempatan untuk mengembangkan usaha

d.     Threat: Ancaman, gangguan, hambatan


2.     Analisis 5 W + 1 H

Analisis ini untuk menjawab pertanyaan

What : produk apa?

Where : dimana lokasi?

When : kapan akan memulai?

Why : Mengapa memilih produk ini?

Who : Siapa orang yang akan terlibat di dalamnya

How : Bagaimana menjalankan usaha ini?

 

3.     Study Kelayakan Usaha

Studi kelayakan bisnis menurut Husein Umar, 2003, yaitu penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidaknya bisnis dibangun tetapi juga saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan maksimum dalam waktu yang tidak ditentukan, misalnya rencana peluncuran produk baru.

Menurut Yacob Ibrahim, 2009 yang dimaksud studi kelayakan bisnis adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa studi kelayakan bisnis adalah menganalisis faktor-faktor bisnis dalam menentukan rencana bisnis tersebut harus dilaksanakan, tidak dilaksanakan ataupun ditunda, dan untuk menilai kelayakan dalam pengembangan sebuah usaha.

Manfaat studi kelayakan bisnis antara lain digunakan untuk :

  1.   Merintis usaha baru
  2.   Mengembangkan usaha yang sudah ada
  3.   Memilih jenis usaha atau investasi yang paling menguntungkan

Tahapan Studi kelayakan usaha dapat dilakukan dengan cara

      a.  Tahap penemuan ide. 
          Suatu produk yang akan dibuat haruslah berpotensi untuk laku dijual dan menguntungkan
      b. Tahap penelitian usaha
          Dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis dan menyimpulkan
      c. Tahap evaluasi
          Mengevaluasi usulan proyek yang akan didirikan, mengevaluasi proyek yang sedang dibangun, dan mengevaluasi bisnis yang sudah dioperasionalkan secara rutin
      d. Tahap pengurutan usulan yang layak
          Jika terdapat lebih dari satu usulan rencana bisnis, maka perlu dilakukan pemilihan rencana  bisnis yang dianggap paling penting untuk direalisasikan
      e. Tahap perencanaan pelaksanaan
          Setelah rencana bisnis di pilih untuk direalisaskan, perlu di buat rencana kerja pelaksanaan proyek.
      f. Tahap pelaksanaan
          Setelah semua persiapan selesai, tahap berikutnya adalah merealisasikan pelaksanaan
      g. Tujuan studi kelayakan bisnis/usaha
          Untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar pada peluang bisnis yang kurang menguntungkan.

Monday, August 31, 2020

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN WIRAUSAHA

 Seorang wirausaha senantiasa dihadapkan dalam dua kemungkinan, yakni keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan usaha. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan keberhasilan dan kegagalan usaha.

1.        Faktor-faktor penyebab keberhasilan wirausaha

Keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan suatu usaha dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan seorang wirausaha dalam mengelola usaha:

a.         Faktor manusia

1)     Kepribadian

Kepribadian atau karakter seseorang sangat menunjang keberhasilannya. Karakter bisa  bawaan dari lahir namun bisa juga di latih secara terus-menerus. Kemauan keras untuk berubah dan lingkungan sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter.

2)     Ilmu Pengetahuan

Ilmu, membantu kita dalam menghadapi berbagai persoalan. Dalam mengelola usaha seorang wirausaha dihadapkan dengan berbagai macam kondisi.

3)     Pengalaman yang dimiliki

Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Pengalaman orang lain bisa kita amati secara langsung, bisa juga berupa kisah inspiratif bisa di dapatkan melalui buku, maupun media elektronik seperti televisi, internet.

b.       Keuangan

Faktor keuangan merupakan salah satu pendukung keberhasilan dalam usaha. Tanpa adanya modal, usaha tidak mungkin bisa berjalan. Modal tersebut digunakan untuk membiayai pengeluaran, seperti pembelian bahan baku, peralatan, perlengkapan kerja, gaji karyawan, promosi dan kegiatan operasional lainnya. Uang memang bukan segalanya tapi segalanya membutuhkan uang.

c.       Perencanaan

Perencanaan yang matang sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan usaha. Agar usaha yang mau dijalankan bisa terarah, dan tidak asal berjalan maka dibutuhkan planning yang matang. Perencanaan dapat dimulai saat usaha itu mau didirikan, misal:

·         Produk apa yang mau dibuat

·         Berapa modal yang dibutuhkan

·         Siapa calon konsumen sasarannya

·         Dimana tempat usahanya

·         Siapa yang terlibat dalam kegiatan usaha

d.          Pemasaran

Pemasaran produk merupakan faktor sangat penting. Sebagus apapun produk, bila tidak mampu memasarkannya, maka produk tidak dapat menjangkau konsumen yang dituju. Oleh sebab itu harus dipikirkan, misalnya:

·         Siapa yang akan memasarkan produk

·         Siapa yang akan beli (pembeli potensial) produk

·         Apa strategi yang digunakan

 

Selain faktor diatas, keberhasilan seorang wirausaha dalam menjalankan usaha menurut Adyaksa Dault harus dilandasi dengan falsafah yang dikenal dengan nama “ DORAEMON”, yaitu sebagai berikut:

ü  DREAM : memiliki impian

ü  OPPORTUNITY : mampu mencari peluang usaha

ü  REFORM : menyusun perencanaan dan mengimplementasikan secara sistematis

ü  ACTION : melakukan suatu tindakan

ü  ENERGY : memiliki semangat yang tinggi

ü  MAPPING : bisa melakukan pemetaan usaha dengan analisis SWOT

ü  ORGANIZING : bergabung dengan organisasi atau perkumpulan

ü  NETWORK : memiliki jaringan atau relasi yang luas

 

2.      Faktor-faktor penyebab kegagalan wirausaha

Menurut Zimmerer yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usahanya adalah:

  1.           Tidak kompeten dalam manajerial’
  2.       Kurang berpengalaman
  3.       Tidak bisa mengelola keuangan
  4.       Lokasi yang kurang mendukung
  5.       Gagal dalam perencanaan
  6.       Sikap yang kurang bersungguh-sungguh
  7.       Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan atau transisi kewirausahaan
  8.       Kurang pengawasan peralatan

 

Memanfaatkan Peluang Secara Kreatif Dan Inovatif

Salah satu faktor keberhasilan seorang wirausaha adalah kemampuannya dalam memanfaatkan peluang secara kreatif dan inovatif. Kreatifitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Sedangkan orang yang kreatif adalah mereka yang memiliki daya cipta.

Berdasarkan penelitian kreatifitas dapat diidentifikasikan yaitu:

1.   Menciptakan ( to create) adalah proses berupa mencari atau menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada

2.   Memodifikasikan ( to modify) dalam memodifikasi sesuatu berupa mencari cara membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi berbeda penggunaanya oleh orang lain

3.   Mengkombinasikan ( to combine) yaitu mengkombinasikan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berhubungan.


Jenis-Jenis Inovasi

Pengertian inovasi menurut Stephen Robbins adalah sebuah ide atau gagasan baru yang di terapkan untuk memperbaiki suatu produk.

Adapun ciri-ciri inovasi diantaranya adalah:

1)  Memiliki kekhasan atau khusus, artinya suatu inovasi memiliki ciri yang khas dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan

2)  Memiliki ciri atau unsur kebaruan, dalam arti suatu inovasi harus memiliki karakteristik sebagai sebuah karya dan pemikiran yang memiliki kadar orisinalitaasi

3)   Dilaksanakan melalui program yang terencana, dalam arti bahwa suatu inovasi dilakukan melalui proses yang tidak tergesa-gesa dan dipersiapkan secara matang terlebih dahulu

4)      Memiliki tujuan, program inovasi yang dilakukan harus memiliki arah yang ingin dicapai, termasuk strategi untuk mencapai tujuan

 

Sedangkan jenis Inovasi menurut Kuratko ada 4 jenis inovasi, yaitu:

1)      Invensi (penemuan Baru)

2)      Ekstensi (pengembangan dari yang sudah ada sebelumnya )

3)      Duplikasi (penggandaan, memperbanyak produk yang sudah ada dan terkenal )

4)  Sintesis ( penggabungan atau mengkombinasikan konsep dan formula yang sudah ada menjadi formula yang baru